Sosok itu telah lama kudengar, di koran jawa pos pernah ku baca tulisan-tulisannya hingga beberapa pekan. sering aku browsing-browsing di internet hanya demi mengenal lebih dekat pada beliau, ulasan banyak media tentang kesederhanaan hidupnya, kelembutan setiap gerak gerik sikapnya, serta setiap kata yang mengalir melalui kalimat-kalimat puisinya membuat aku terkagum ingin mengikuti jejaknya. Jika ada sesosok manusia yang ku kagumi di dunia ini, beliau adalah salah-satunya. Salah satu diantara deretan setelah Rasulullah SAW, manusia sepanjang zaman yang paling ku kagumi.
Beliau adalah D Zawawi Imron, siapa yang tak kenal penyair asal Batang-Batang Sumenep Madura itu yang telah melambungkan namanya di kanca penyair internasional! Berbagai penghargaan nasional dan internasional telah ia raih, 2010 kemarin beliau menerima penghargaan dari perdana menteri Malaysia sebagai penyusun kalimat puisi terbaik se asia tenggara. Beliau juga dipercaya menjadi konsultan Universitas Brawijaya Malang serta dosen yang disegani di beberapa kampus di nusantara dengan hanya bermodal Tamatan SD.
Siang itu, bersama teman-teman pengurus GPMR. Kami sengaja bertandang ke Rumah beliau untuk mengenal kehidupan beliau lebih dekat, sesampainya disana kami melihat sebuah Rumah yang sangat sederhana berarsitektur minimalis 70an penuh lukisan-lukisan diatas kanvas, disebelah timur rumah itu, terdapat sebuah rumah masih berdempetan telah beberapa tahun sepertinya belum pernah direhab. Disitulah katanya tempat beliau melahirkan karya-karyanya baik tulisan maupun lukisan. Setelah kami dipersilakan duduk oleh seorang pria muda dikursi yang telah disediakan bagi para tamu, kami terkesima menikmati lukisan-lukisan karya beliau yang dipampangkan di dinding-dinding rumahnya, kerut dahi dan mata tercengang setiap kali melihat-lihat keadaan yang cukup rindang, sederhana yang sangat disekitar rumah seorang bertaraf internasional. Sungguh telah membuka kunci jawaban memaknai hidup penuh arti, bahwa hidup sederhana, hidup sejahtera adalah hidup tanpa tekanan, berjuang tanpa rintangan, penuh kasih sayang, disertai sikap ramah pada manusia atau pada alam lingkungan disekitarnya.
Sekitar 30 menit, beliau akhirnya datang dan menemui kami. Sembari menurunkan cucunya dari boncengan sepeda motornya. Beliau bertanya pada kami “ini dari mana” serentak kamipun menjawab “kami mahasiswa asal ra’as pak, dari sumenep” “alhamdulillah,,, ini saya ngantar cucu, tadi nangis minta dibeliin mainan, mari diminum tehnya, seadanya ya” subhanallah, kasih sayang yang ditunjukkan pada cucunya menandakan beliau adalah sosok yang patut ditiru oleh indonesia, bahwa siapapun mereka harus mendapatkan kasih sayang yang sama, keadilan yang merata tanpa pandang bulu, tentu membagi hak sesuai dengan kwantitas dan kwalitas jiwa dan pemikiran masing-masing mereka. Bila Tuhan menilai manusia dari segi taqwanya, manusia menilai manusia dari nilai kredibelitas serta integritasnya dalam rangka menghadapi kompetensi hidup yang semakin komplit. “saya kenal orang-orang ra’as, di Sukorejo, di Nurul Jadid Tanjung, saya mengikat emosial yang tinggi dengan mereka, di jogja juga ada orang ra’as yang sukses, kalau di Bali tidak perlu di tanya orang ra’as sukses-sukses disana, di bengkulu saya kenal H. Artf seorang doktor Lulusan Pendidikan Sastra, beliau bukan sastrawan tapi lulusan sastra, di daerah itu beliau sosok yang sangat di segani, kalian harus bangga jadi orang ra’as, tidak boleh malu, bawalah ra’asmu, jangan lupa orang ra’as dimana-mana belum saya dengar membuat keonaran, jadi kalian jangan mencederai ra’asmu” “insyaAllah pak” sungguh tak sempat kami berpikir, belum sejam berbincang-bincang dengan beliau sudah merasa seperti kenal bertahun-tahun. Sungguh keakraban yang diberikan beliau membuat kami merasa menemukan sosok bapak yang lembut, sosok guru yang teladan, sosok teman baik yang sejati.
“maaf pak, kalau tidak keliru saya pernah membaca puisi bapak tentang Pulau Bidadari di Ra’as”
“ya, ya... termasuk itu yang dapat penghargaan dari PM Malaysia kemaren 2010, kalau D Zawawi hanya sebuah nama, boleh menulis jelek tapi anak Ibu tidak boleh” jawab beliau sambil membacakan Puisi Ibu untuk kami, berkaca-kaca dengan penghargaan yang luar biasa diberikan seorang perdana menteri malaysia, sementara di indonesia waktu beliau menerima penghargaan sastrawan nasional, beliau menerima penghargaan dari seorang Agung Laksono. Yah,,, memang begitulah seorang seniman dan atlet nasional kita jarang sekali bahkan terbilang tidak ada sama sekali yang menerima penghargaan dari seorang menteri, apalagi presiden! Bila ada mungkin hanya terkesan simbolis dan sama sekali tak memperhatikan perkembangannya.
“bapak pernah ke ra’as?”
“belum, kalau melihat pernah, melalui udara waktu ke sulawesi,, hehehe” tak ayal kamipun semua tertawa,
“kalau sekali-kali bapak ke ra’as, siap tidak?”
“kapan?”
“ya kalau kami, maunya bulan syawal ini pak”
“wah, syawal tepat bulan september, ombak besar,, naik apa kesana,, kalau perahu saya benar-benar trauma, dulu saya sering ke kangean naik perahu,, pernah hampir tenggelam di terjang ombak,, memang sih,, kecelakaan laut tak seberapa dibanding kecelakaan darat,, tapi namanya trauma,, siapa yang mau mengobati?”
“he_he, tapi kalau september ombak sudah tipis pak, bahkan bisa dipastikan tidak ada”
“wah, kalian seperti peramal aja”
“sudah begini saja, kalian punya perkumpulan disumenep”
“ya pak, kami dari gerakan mahasiswa dan pemuda ra’as (gpmr sumenep)”
“wah, namanya koq gerakan, pakai solidaritas akan lebih kenak ke hati dan rasa kebersamaan akan benar-benar terasa,, di banding gerakan kedengarannya saja seperti mau berperang”
“sebenarnya awalnya kami bernama generasi pelajar dan mahasiswa pak,, namun karena hasil musyawarah tahun 2010 kemaren disepakati berganti nama kesebuah ke gerakan, dari pergantian nama harapan kami menjadi gerakan yang positif”
“ya, tak apalah nama boleh gerakan yang dilakukan harus gerakan yang bernilai positif dan bermanfaat untuk orang banyak,,, kalau memang teman-teman ra’as mau, silakan adakan acara kecil-kecilan disumenep, tidak usah digedung, dirumahnya orang-orang ra’as yang ada di sumenep numpang ada kegiatan pasti boleh,, atau pinjam mushallah mo ngadakan pengajian bilang saja bersama D Zawawi Imron pasti boleh,,, hehehe ”
“kami punya kontrakan sekretariat pak”
“nah apalagi suda ada, manfaatkan!,, ayo kapan mau mengadakan kegiatan saya siap hadir”
“insyaAllah pak, kami akan menginformasikan ke teman-teman lainnya”
Tak terasa dua jam sudah terlewati, banyak pencerahan yang kami dapat dari beliau, pelajaran yang mesti kami petik dan harus kami kembangkan
“saya ingin, kamu-kamu ini kelak menjadi pemimpin yang baik, yang memberi pembaharuan kepada bangsanya, mengabdi kepada negaranya, bukan sekedar pendemo, ingat tak kan ada pendemo terbaik sepanjang sejarah, ya sudah saya mau ngusir kalian, tapi jangan tersinggung saya punya bukti (sembari memperlihatkan sms2 dari teman-teman beliau) ini baca” kamipun membaca “Bapak kalau sudah sampai rumah langsung istirahat ya pak, tidak boleh keluyuran, bapak harus jaga kondisi kesehatan bapak” “ya,,, saya baru tadi malam sampai disini, sekitar jam 2,, habis keliling indonesia” “ya pak, kami minta ma’af mengganggu bapak,,” “mengganggu minta ma’af, kalau digangguin tidak mau,,,” kami semua tertawa oleh guyonan-guyonan beliau, kami masih ingin lama-lama ngobrol dengan beliau, tapi karena sepertinya beliau sangat capek dan butuh istirahat. Kamipun segera pamit, dan sebelum kami menaiki sepeda motor, kami sempat melihat Sayev cucu beliau, aktor utama dalam film Mestakung (Semesta Mendukung) Sutradara John De Rantau Garapan Mizan Production, bersama bintang film papan atas Lukman Sardi dan Revalina S Temat dll. Kamipun sempat ingin menyapanya namun oleh beliau tidak diperkenankan sebab bila kami menyapa, beliau khawatir nanti ketika besar sayev menjadi orang yang sombong “biarkan dia tumbuh bersama teman-teman sebayanya, kalian cuek saja biar dia merasa tidak di kenal orang, nanti kalau dia merasa dikenal banyak orang saya khawatir dia jadi anak sombong, kalau sudah menjadi orang yang sombong, dia jadi rugi saya juga rugi”
“saya ingin, kamu-kamu ini kelak menjadi pemimpin yang baik, yang memberi pembaharuan kepada bangsanya, mengabdi kepada negaranya, bukan sekedar pendemo, ingat tak kan ada pendemo terbaik sepanjang sejarah, ya sudah saya mau ngusir kalian, tapi jangan tersinggung saya punya bukti (sembari memperlihatkan sms2 dari teman-teman beliau) ini baca” kamipun membaca “Bapak kalau sudah sampai rumah langsung istirahat ya pak, tidak boleh keluyuran, bapak harus jaga kondisi kesehatan bapak” “ya,,, saya baru tadi malam sampai disini, sekitar jam 2,, habis keliling indonesia” “ya pak, kami minta ma’af mengganggu bapak,,” “mengganggu minta ma’af, kalau digangguin tidak mau,,,” kami semua tertawa oleh guyonan-guyonan beliau, kami masih ingin lama-lama ngobrol dengan beliau, tapi karena sepertinya beliau sangat capek dan butuh istirahat. Kamipun segera pamit, dan sebelum kami menaiki sepeda motor, kami sempat melihat Sayev cucu beliau, aktor utama dalam film Mestakung (Semesta Mendukung) Sutradara John De Rantau Garapan Mizan Production, bersama bintang film papan atas Lukman Sardi dan Revalina S Temat dll. Kamipun sempat ingin menyapanya namun oleh beliau tidak diperkenankan sebab bila kami menyapa, beliau khawatir nanti ketika besar sayev menjadi orang yang sombong “biarkan dia tumbuh bersama teman-teman sebayanya, kalian cuek saja biar dia merasa tidak di kenal orang, nanti kalau dia merasa dikenal banyak orang saya khawatir dia jadi anak sombong, kalau sudah menjadi orang yang sombong, dia jadi rugi saya juga rugi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar