Yang tak kebagian di dalam perahu, harus rela berdesak-desakan di atas Dek, tidur dekat WC, berdendang dengan Diesel 8000 volt, ato bersua lagsung dengan air laut, Fantastis, berpanas-panasan adalah pemandangan rutin yang memualkan dipertengahan tanggal bulan ramadlan hingga pertengahan bulan syawal. Sekitar 5 jam kemudian mereka bangun dari tidurnya, bangun sempoyong-an, menganga dengan busa-busa muak yang tersisa, bersorak dengan hati gembira, akhirnya perahu berlabuh dengan selamat. Lengkap sudah, semua keluarga berkumpul untuk merayakan hari kemenangan islam, hari raya idul fitri.
Menyambut bulan ramadlan, sudah kupastikan aku dan adikku pulang lebih awal dari pada keluargaku yang biasa pulang dipertengahan ramadlan atau pas hari raya tinggal dua hari lagi. Aku tak ingin mengulangi pengalaman berdesak-desakan di atas dek melawan terik matahari hingga membuat adikku mengalami semaput pada waktu itu. Sebabnya sebelum tiba bulan ramadlan, tepatnya bulan ruwah dalam hitungan tahun jawa kuno, atau bulan sya’ban dalam hitungan tahun islam yaitu tahun hijriyah yang mengikuti perputaran Qamariyah. Aku dan adikku memastikan diri dapat menikmati udara segar di pulauku tercinta.
Menyambut bulan ramadlan, sudah kupastikan aku dan adikku pulang lebih awal dari pada keluargaku yang biasa pulang dipertengahan ramadlan atau pas hari raya tinggal dua hari lagi. Aku tak ingin mengulangi pengalaman berdesak-desakan di atas dek melawan terik matahari hingga membuat adikku mengalami semaput pada waktu itu. Sebabnya sebelum tiba bulan ramadlan, tepatnya bulan ruwah dalam hitungan tahun jawa kuno, atau bulan sya’ban dalam hitungan tahun islam yaitu tahun hijriyah yang mengikuti perputaran Qamariyah. Aku dan adikku memastikan diri dapat menikmati udara segar di pulauku tercinta.
Saat Santap Sahur tiba, menu kuah maronggih atau sekali-sekali kuah sup gobes telur serta ikan asin malengseng ditambah krupuk lengker yang tak bisa kutinggalkan merupakan sajian Nenekku yang selalu kutunggu-tunggu. Tak jarang sewaktu masih kanak-kanak dulu, bila di atas teng-teng masih ada sisa ikan malengseng, siang hari aku dan adikku mengendap-ngendap menyantapnya, tulang belulangnya di buat serawutan biar disangkanya di makan kucing. J_J Padahal, Nenekku tahu dan hanya senyam-senyum saat memergoki aku dan adikku gantian ngelap bibir menggunakan kemeja yang kupakai agar tidak ketahuan.
Suatu ketika disela-sela santap sahur, nenek memberi kabar kalau ibuku mau pulang, “tadi malam bapakmu nelpon, katanya besok ibumu pulang ikut perahu timur, ayahmu tidak ikut masih banyak urusan disana, ayahmu pulang nanti tanggal dua delapannya, kamu jemput ibumu ya” katanya “ya nek” jawabku
* * *
Esok harinya, ba’dah dhuhur aku berangkat menuju pelabuhan. Ditengah perjalanan aku didahului sepeda motor yang melaju kencang seperti polisi mengejar ranmor. Soal kencangnya, tontonan treck-treckkan sepeda motor tiap malam minggu di kota asal bapak dan ibuku bekerja sebenarnya lebih kencang, tapi yang ini beda, pengendaranya seorang perempuan berjilbab. Kulihat ada sesuatu yang jatuh darinya, kupungut ternyata sebuah tasbih berwarna merah muda. Namun aku tak mungkin mengejar-nya hanya untuk mengembalikan sebuah tasbih, maklum aku tak berani kebut-kebutan apalagi aspal jalan raya di pulauku ini terbilang sangat keren alias kerikil the end kerikil yang mematikan, bisa dibayangkan berapa banyak ke-celakaan akibat tergelincir kerikil tiap tahunnya. Banyak masyarakat mengeluh, tapi ya begitulah hanya mengeluh saja, akupun hanya mendengarnya hingga tak jarang keluh kesahnya seperti alunan musik ditengah jalan dan kami bak biduan yang menggoyangkan pinggul di atas sepeda motor. Ah,,, pasti ketika terjadi kecelakaan semua berkomentar sok tahu “bagaimana tidak jatuh, dia tidak hati-hati naik sepeda motor, seperti rossi saja”. Kusimpan saja tasbih itu, bila nanti ketemu aku berharap bisa mengembali-kannya.
***
Di Masjid Jami’ itu, peringatan Malam Nuzulul Qur’an selalu didominasi santri pesantren itu-itu saja. Entahlah, karena memang pihak ta’mir tak memberi kesempatan pada pesantren lain atau sebaliknya pesantren lain sengaja membuat kesan tak diberi kesempatan. Tapi yang jelas kita ini orang islam, islam itu bersaudara kawan ! Jangan sampai terjadi permusuhan karena hanya perbedaan background almamater, ingat tujuan awal mondok hanya mencari ilmu tidak yang lain apalagi mencari musuh.
Jika tidak karena temanku memaksa, aku tak mungkin menghadiri acara pengajian malam nuzulul qur’an itu. Jujur aku bosan dengan suguhan-suguhan ceramah sebuah pengajian toh pada akhirnya yang terjadi di masyarakat hanya sebuah penilaian bagus dan tidaknya muballigh itu menyampaikan pidatonya. Apalagi banyak kujumpai mereka yang hadir tak jarang hanya melirik kesana-kemari melihat putri-putri santri atau perempuan-perempuan dibalik kerudung yang melilitinya. Bila demikian, akupun tak ingin ketinggalan mencari tahu siapa saja kira-kira bunga desaku, mujur siapa tahu menjadi jelita jantung hatiku. J_J
Saat hendak memasuki area pengajian, dipintu masuk aku berpapasan dengannya, pakaian dan jilbabnya masih sama seperti yang dikenakannya tadi siang. ini benar-benar sebuah kebetulan yang sempurna, berharap bisa ketemu dan mengembalikan tasbihnya laksana doa yang sudah terkabulkan Tuhan. Dalam hati kupanjatkan syukur “thank’s to Allah”. “ba’” segera saja kutegur “iya, ada apa ca’?” “tadi siang sekitar jam satu, mba’ naik sepeda motor ya?” “ya, kenapa emang?” “tasbihmu jatuh, aku simpan dirumah” “ya benar,, tadi aku keburu, sory sampe lupa tasbihku jatuh, he_he” “rumah mba’ dimana? biar besok aku antar” “besok aku sedikit sibuk ca’, kapan-kapan kalo tidak keberatan g pa-apa ya ca’” “oke, emmh nomermu berapa” “nomer rekening ya?” “boleh,,,” “he_he, sory canda..(sambil ngedekte nomor hapenya untukku, ia sibuk dengan berkas-berkas ditangannya), miskol ya ca’” “oke”. Hemmm, tak kusangka ia perempuan aktifis cakapnya diatas panggung mem-berikan sambutan panitia tak diragukan lagi kemampuaannya. Ia pasti perempuan cerdas, sudah cantik cerdas pula siapa yang tak ingin memilikinya.
***
Beduk sahur, dan thonk-thonk sudah terdengar. Masjid dan Mushalla bersahut-sahutan membangunkan para tetangga. Aku, adik, ibu dan nenekku segera bangun dan siap-siap santap sahur. Ibu segera membantu nenek masak didapur, adikku biasa menunggu di meja makan kadang-kadang juga bantu-bantu cuci piring, sementara aku baru ngumpul jika semua hidangan sudah siap saji. J_J
Dijaman teknologi hape, mengisi luang sambil menunggu persiapan santap sahur. Pekerjaan paling asyik yaitu membangunkan teman-teman yang jauh melalui smsan atau sekedar miskol- miskolan bila tidak ada pulsa. Sama seperti kepada teman lainnya, pada Si Aina, santriwati yang kujumpa dipengajian tadi, aku kirim sms .: sahur – sahur – sahur :. Diapun membalas .: alhmd4jji, da slsai c’, gmn kbr :. .: baik, oy tsbihx piye? :. .: he3x, srah cc’ gmn enkx :. .: enkx see diputar ak dlu yach :. .: seep dech :.
Sejak tasbih itu digenggamanku, rasanya ada yang mengalir dari tiap putaran biji-biji tasbih itu. Ada kekhusukan yang tidak terpatri, dan keinginan selalu menggenggamnya serta harapan dan do’a-do’a yang kadang-kadang berlebihan pada Tuhan. “ya Allah, jadikan malamku, menjadi malam yang panjang diatas sejadah yang engkau ridhai, kabulkan anganku bersama hidayah-Mu, teteskan-lah rahmat dan rahim-Mu kepadaku seumpama kebahagiaan saat aku bisa berjumpa dengannya, amin”
Butir-butir tasbih terus berputar, lafal-lafal semakin kencang kuucapkan. Ada keindahan yang sedemikian rupa bertebaran di atas sejadah yang belum kugulung. Bila tiba-tiba muncul dihadapan, pucuk pualam yang merindukan dedaunan pastilah semakin indah. Begitu segelumit sms-sms aku dan dia saat menjelang buka puasa atau saat santap sahur tiba. Aina bukan Sayyidatina Aisyah bukan pula Khatijah istri Rasulullah, namun setidak-nya kata demi kata yang mengalir lembut merangkai hati yang sedang jatuh cinta.
***
“Allahu akbar 3x, la ilaaha illallahu allahu akbar, allahu akbar wa lillah ilham”
Takbir dan tahmid sudah berkumandang, beduk masjid jami’ terdengar sangat kencang. Pemuda - pemuda mulai me-madati area persimpangan jalan, dari yang pakai kopyah, sarung dan baju taqwa hingga pakaian norak yang ugal-ugalan sampai yang tak karuan. Semua berkumpul untuk Merayakan Kemenangan Fitri “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” berkeliling memutari tanah ra’as tercinta, menciprati aspal tak bertuah. Selama tujuh hari tujuh malam lamanya, ra’as lekat dengan nuansa fitri dan halal bihalal para sahabat santri.
Kusempatkan silaturrahmi ke semua keluarga, kerabat, sanak family dan tetangga-tetangga hampir separoh desa. Dan terakhir, mungkin hari yang ke lima atau ke enam tak pernah kulewatkan bagian silaturrahmi ke rumah si Aina. Sungguh kisah yang romantis di hari fitri masa itu.
Kini, tasbih yang biasa kugenggam saat di atas sejadah. Telah terjatuh dan tak sempat memungutnya kembali ketika kubawa menonton pertandingan sepak bola karena desakan manusia-manusia gibol hingga lupa nuansa fitri yang hakiki. Berjingkrak kegirangan meneriaki jagoan lapangan, meliuk-liuk dliuar dan didalam lapangan, luar biasa histeria sambutan penonton. Belum lagi resepsi pengantenan yang membeludak bak antrian harian yang memang dijadwalkan. Halal bi halalpun hilang, fitri tak lagi menjadi harapan setiap insan, Ainapun sudah tak lagi kelihatan karena berbaur diantara deretan para gibol dan gendang kempol di acara pengantenan itu.
Tak lagi ada waktu tujuh hari tujuh malam, halal bi halal bukan lagi sebuah harapan, fitripun hilang. ^L^L^L^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar