Aku pernah
menyaksikan dari dekat bagaimana lumpur lapindo meluap dan mengikis
habis perkotaan porong sidoarjo, banyak wisatawan lokal maupun
interlokal bahkan international yang mengabadikan pemandangan yang
menakjubkan itu. :) ya porong termasuk fenomena alam yang hadir di
tengah-tengah kota dengan panorama yang menakjubkan. Sekali lagi
menakjubkan bagi mereka yang berpariwisata yang rumahnya aman dari
bencana. Tapi entahlah, bagaimana dengan mereka yang rumah asalnya di
porong kemudian hancur lebur dalam lumpur, sampai detik ini belum aku
dengar orang porong yang rumahnya dikenai bencana lumpur itu mendadak
menjadi orang kaya dari hasil penjualan limbah lumpur ke dasar laut.
Akh, pasti sangat menyakitkan bukan.!
Mari kita telisik, bagaimana Pulau Sepanjang (1) dulunya merupakan
penghasil dan penyuplai pisang terbanyak ke Pulau Dewata Bali sekarang
justru berbalik 90o, Pulau Sepanjang menjadi salah satu Pulau yang
justru mendapat suplai pisang dari berbagai daerah lain. Benarkah petani
sepanjang sudah menjadi petani malas karena hasil pisang tidak mampu
menghidupi keluarganya, tetapi bagaimana dengan daerah lain yang masih
semangat bertani pisang, apakah mereka tidak punya keluarga?
“tahu apa kau soal ilmu geologi..?”
“yang aku tahu banyaknya realita, aku memutuskan untuk tidak tertarik
belajar geologi, toh ahli geologi tidak ada yang bisa menjawab derita
warga korban Lapindo kan.?”
“itu bencana alam, bisa saja besok atau sekarang pulaumu tenggelam!”
“kalau jawaban itu, aku tak perlu bertanya pada ahli geologi, adekku
yang baru lulus SD juga bisa menjawab, tetapi adekku yang sudah SMP
pasti mencari tahu jawabannya, karena teori IPA yang sedang ia pelajari
menjelaskan Hukum alam merupakan hukum sebab akibat... kau pernah
mendengar?”
Demikian, suatu ketika perbincanganku dengan orang ra’as yang katanya
beliau seorang akademisi, birokrasi, muslim sejati yang tak pernah
lepas dari peci, sorban bahkan beliau usai naik haji. Akh, kawanku..
apakah kau tahu kemudian bagaimana jawaban para buruh tani, buruh
nelayan, petani dan nelayan, pedagang atau pengusaha kecil-kecilan
seperti pengusaha warung kopi ataupun warung nasi. “sudahlah cong, itu mungkin sudah menjadi takdir kita”,
jawabnya. Takdir ¿ hatiku terhenyak mengingat kalimat itu kawanku, ak
tak percaya mereka punya alasan logis dengan jawaban itu, kecuali mereka
sudah jenuh dengan para pelaku birokrasi yang kerap menipu mereka. Aku
yakin mereka paham betul dengan ayat Al-Qur’an bahwa “..Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka…”(2). Hemzz, ayolah kawanku kita
berpikir realistis, takdir itu tujuan ibarat kita akan pergi ke pasar,
kita punya pilihan apakah kita akan pergi dengan jalan kaki atau
menggunakan kendaraan. Melalui jalan sempit atau jalan raya, hati-hati
atau ceroboh. Itulah yang akan menentukan garis takdir kita. Bukankah
begitu, kawanku?
Sepanjang malam itu, pikiran dan hatiku tak bisa berbuat apa-apa. Tak
ada satupun teori sosial yang mampu membuatku tersenyum, semua absurd.
Seantero jagat raya terdengar sunyi, di bawah kolong-kolong langit hanya
sesekali tampak cahaya merah pekat. Sementara sang cakrawala terlihat
gelap, gelap sekali. Malam itu tak satupun bintang memancarkan
cahayanya, dan sang raja malam lima belas tak berani tampak oleh karena
tebalnya selimut awan hitam. Padahal aku sangat butuh pancaran sinarnya,
ya setidaknya satu cahaya mampu membuat hatiku berpaling dari keyakinan
lama bahwa sebuah kebajikan tak kan pernah bisa mengalahkan kejatan
yang terorganisir. Akhhh..
Kawanku, aku memang tidak begitu paham apa dan bagaimana dampak
negaif dari ekplorasi dan eksploitasi MIGAS, tetapi apakah hati kita
sama sekali tak bergetar melihat relitas keadaan Pulau Sepanjang atau
pulau tetangga sebelahnya yang sudah memlilih tenggelam bila air laut
sedang pasang, sudah setinggi lutut manusia indonesia normal, kawanku!
“hemmz, ya sudahlah cong.. kalaupun tidak karena Ekplorasi dan
Eksploitasi Migas, ra’as itu lambat laun ya sudah terkikis, bukankah
batu-batu karang di ra’as memang dibiarkan digali, bom-bom ikan meledak
dimana-mana.! Bukankah itu memang kemauan orang ra’as.?”
“Bom Ikan, iya.. tetapi bukan kemauan semua orang ra’as. Hanya
kemauan segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari, yang barangkali
mereka sendiri tidak paham dan tidak sadar akan dampaknya. Bukankah
selama ini pemerintah terkesan cuek.? Coba, berapa kali pemerintah kita
mengadakan sosialisasi kepada mereka terkait dengan dampak, larangan dan
sanksinya.? Jika mereka harus berhenti dari pekerjaan ngebom, ia harus
bekerja apa..? mereka sedang mencari solusi itu, mereka juga tidak mau
sering berurusan dengan polisi tetapi mereka butuh makan..!”
Condition of perfect, is complete, kita tertindas
oleh para preman-preman birokrasi, kita kecewa karena warga sendiri,
kita hilang kepercayaan karena kelakuan-kelakuan bejat para penegak
keadilan. Lalu kepada siapa kita bangun kepercayaan itu.? Ah kawanku,
yuk kita tidur dulu nanti kalau kita terbangun, kita bangun kepercayaan
itu.
* * *
Tujuh belas agustus tahun empat lima/ Itulah hari kemerdekaan
kita/ Hari merdeka nusa dan bangsa/ Hari lahirnya bangsa Indonesia/
Merdeka/ Sekali merdeka tetap merdeka/ Selama hayat masih di kandung
badan/ Kita tetap setia tetap setia/ Mempertahankan Indonesia/ Kita
tetap setia tetap setia/ Membela negara kita (3).
Nyanyian itu serasa baru kemarin aku hafalkan, tetapi besok umur
Indonesia sudah 67 tahun. Apakah perlu kulantunkan dengan merdu Lagu
Indonesia Raya itu ? Sementara ratapan dan tangisan, kekecewaan dan
ketidak adilan yang terjadi pada golongan strata sosial terendah masih
terus berlangsung menulis cerita di bawah kolong-kolong jembatan,
ataupun menjadi setumpuk tulisan koran bekas di dalam tong sampah ?
Ataukah harus kubacakan kembali, dengan lantang menggantikan Sang
Proklamator Almarhum Soekarno membacakan teks Proklamasi Indonesia? Lalu
aku biarkan Sumpah Pemuda mengalir dalam darah, tetapi tidak biru
apalagi merah, karena kuning menjadi isyarat lampu lalu lintas memberi
perhatian “sebaiknya kecepatan dikurangi” hemz,, andai waktu itu
Almarhum Soekarno mematuhi lampu kuning yang diberikan Belanda niscaya
Indonesia tak kan menjadi sebuah negara, dan tidak akan ada cerita 17
Agustus Indonesia merdeka !
Malam setelah tanggal 17 agustus 2012 Masehi. atau lebih tepatnya
setelah malam tanggal 15 bulan Ramadhan 1434 Hijriah. Tepat Jam 21.30
waktu indonesia ra’as. 8 orang sahabatku bertandang dan berkumpul di
Rumah kecilku, seperti biasa kami menikmati join 1 muk kopi penuh canda
dan tawa, tawa yang sangat khas dan tidak berubah segera meluap dari
celah dagelan para mahasiswa yang tidak lulus-lulus, mahasiswa
kadaluarsa, mahasiswa pembual dan pembolos, dan tidak tertinggal pula
mahasiswa kolektor kampus; bayangkan dalam 2 tahun ia mampu menjadi
mahasiswa di 3 kampus dan kota yang berbeda, hemz.. record hebat diantara sahabat dan orang-orang yang pernah kukenal.
Kian malam, perbincangan kami kian memanas. Ada pertanyaan yang mesti kami pecahkan bersama solusinya “se-abrek problema pulau kita, siapa yang pantas kita percaya.?” Dan kesimpulan sementara, jawabannya “belum
ada, kita masih percaya pedagang kopi lebih memahami dan bersikap adil
pada pelanggannya, mana yang suka pahit, suka manis, suka pahit manis.
Dan iapun meraciknya dengan baik!” “hahaha”. Satu persatu
mereka pamit pulang, dan tinggalla kami berlima; aku, Rusly, Khairul,
Suryadi, dan Arief kembali membahas apa yang harus kita lakukan demi
mewujudkan cita-cita ra’as yang adil, sejahtera dan maju. Rusly dan
Khairul berbeda pandangan namun keduanya sama-sama terkesan pragmatis
dan simpelistis “kalau sudah hukum di indonesia tak bisa ditegakkan, kita seret saja pemimpin-peminpin itu dan bunuh..!”.
hemzz, Suryadi dan Arief yang sama-sama lahir dari tubuh organisasi
pergerakan berpandangan lebih ekstrim namun tetap dalam semangat
menegakkan demokrasi “demo,,, ya kita bombardir dengan demo para pemimpin-pemimpin kita yang tak becus itu”. Hemzz, semangat yang meluap-luap seperti yang kuharapkan, “semangat
ini yang kubanggakan dari kalian, tetapi kalian harus tahu, sementara
ini kalian (mahasiswa) tidak secuilpun mendapat tempat di hati
masyarakat ra’as..! kalian tahu kenapa..? karena jatah Beras Miskin
(RasKin) di kecamatan Ra’as dikurangi, dan itu sebagai efek dari demo
yang pernah mahasiswa Ra’as lakukan di Sumenep” “what’s” mimik
ekspresi wajah asin, kecewa dan entah marah karena bodohnya masyarakat
ra’as yang kurang membaca, gaptek dan hanya menonton film-film sinetron
saja “iii-ni, ini pasti para pemimpin itu... memfitnah dan menyampaikan dikuranginya jatah raskin dikait-kaitkan dengan demo itu” gesture
dan gestikulasi jari Rusly menuding-nuding suasana entah kepada siapa,
warna wajahnya persis ketika kulihat sebuah drama teater Mahabarata
dalam lakon Kartawirya Arjuna melawan Rahwana dalam kisah Uttarakanda
atau Kitab ketujuh dari seri Ramayana “apa manurut masyarakat
mahasiswa ra’as di sumenep kala itu berteriak agar jatah di ra’as harus
di kurangi..? apa mereka tidak tahu, kalau pengurangan jatah raskin itu
berlaku di seluruh indonesia.?” Arief demonstran yang tumbuh dari
kalangan pesantren kemudian keluar dan menjadi alumni yang bebas dari
keterikatan peraturan pesantren. Sekedar Intermezo, ketika ia
masih berstatus santri bila sedang ikut demo pasti ia menggunakan topeng
wajah sebab ia tidak mau ambil resiko wajahnya masuk koran dan
dipermasalahkan oleh keamanan pesantren lalu di usir “itu kan dulu”
ungkapnya saat kuingatkan pada masa-masa lalu. :-) Tetapi malam ini,
wajahnya kembali sayu seperti baru saja mendengar duka atau persis saat
ia memendam rasa kecewa karena di tolak cinta “tentu, tidak semua
masyarakat percaya begitu saja apa yang mereka dengar, ia pasti mencari
informasi lain. Sudahlah tidak perlu melankolis begitu, toh apa yang
telah kalian (mahasiswa) lakukan itu, aku yakin tidak ada yang keliru,
karena hakekat perjuangan mahasiswa semata-mata hanya ingin
menyelamatkan bangsa dan ingin memberi pemahaman soal kebenaran” tegasku.
“memang pada kenyataannya, banyak dari gerakan mahasiswa
ditunggangi kepentingan-kepentingan tak bertanggung jawab dan hanya
mementingkan keuntungan pribadi semata, kita tidak mau kejadian Kasus
SISMIOP terulang kembali karena Oknum mahasiswa dan LSM yang hanya
mementingkan perutnya sendiri, kita juga tidak mau ada pihak ke tiga
yang justru mengambil keuntungan dari gerakan mahasiswa seperti kasus
RasKin dengan berpura-pura menjadi wartawan dan setelah mengambil
keuntungan iapun menghilang” Suryadi, setelah lama tenggelam dalam
hipnotis kota yang molek dan erotis, semangat patriotis terhadap
pulaunya kembali tumbuh dan manurutku ini wajib mendapat apresiasi
tinggi.
* * *
Sudah terlalu lama suara Ra’as dibiarkan mengalun ke awang-awang,
jeritan hati yang terluka hingga suara parau yang bergema tak mampu
mengubah keadaan Pulau Ra’as yang tertinggal, “tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan brow!” betul sekali, tetapi apakah hanya dengan diam dan berpendapat saja kita akan menunggu dan akan bilang “pada saatnya nanti Ra’as pasti maju dan tidak tertinggal lagi”
sementara realita kita secara kolektif tidak pernah berbuat apapun
untuk ra’as.! Aku mulai curiga jejaring sosial Facebook Group Suara
Ra’as hanya menjadi hiasan perang Logika yang bertabur dalam maya namun
tak mampu meruak di alam nyata, padahal anggotanya tidak hanya terdiri
dari kalangan mahasiswa saja. Para Birokrasi, Akademisi, Kiai, hingga
Mantri sudah sering berdiskusi tetapi sungguh aku seperti melihat
genderang bertalu tak bertali tak punya gagang pegangan ataupun gedebug
parang dalam perang melawan penjajah, kita ibarat teripang terapung,
tidak berenang apalagi melayang, tidak kedasar tidak pula kepermukaan.
Akhhh...
Memang siang itu di Mushalla Nurul Jannah Ketupat, 22 Agustus 2012 M
atau 04 Syawal 1434 H, matahari kembali mentransformasikan energi putar
semangat bagiku. Sekitar 50 Orang pemuda berstatus mahasiswa berkumpul
dan berdiskusi ringan soal migas di ra’as. Mereka orang-orang hebat
untuk ra’as yang pengetahuan dan kemampuannya tak perlu diragukan lagi.
Mereka berasal dari anggota Malang Corruption Word (MCW), Ketua Umum
Koordinator Komisariat HMI UIN Malang, Sekjend PMII Cab. Sumenep, Ketua
Umum PMII Cabang Situbondo, Ketua BEM Fakultas Kesehatan Universitas
Wiraraja Sumenep, Ketua Komisariat PMII Universitas Brawijaya Malang,
dan ketua GMNI Cabang Sumenep, dan 2 orang mantan mahasiswa aktifis
senior dan isnpiratorku semasa di Sukorejo dan mahasiswa-mahasiswa yang
aku sendiri tidak tahu alamat dan kedudukannya. “thank’s all, kalian telah mengobarkan kembali kepercayaanku bahwa Pejuang tak kan pernah mati”
tetapi kutegaskan pada kalian, nasib Ra’as bergantung di pundak kalian
bukan dipundakku, karena ra’as bukan milikku tetapi milik kita semua.
Bersambung............
Nantikan Episode selanjutnya “PASUKAN TERAKHIR DI NEGERI SIPUT”
Membakar cemburu di boemi adirasa-3 (habis)
...................................................................
1. Pulau Sepanjang Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep
2. QS : Ar-Ra’d ayat 11
3. Lagu Hari Merdeka (17 Agustus 1945) Cipt. H. Mutahar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar