Rabu, 14 November 2012

TRIPANG TERAPUNG "Membakar Cemburu di Boemi Adirasa-2""


Aku pernah menyaksikan dari dekat bagaimana lumpur lapindo meluap dan mengikis habis perkotaan porong sidoarjo, banyak wisatawan lokal maupun interlokal bahkan international yang mengabadikan pemandangan yang menakjubkan itu. :) ya porong termasuk fenomena alam yang hadir di tengah-tengah kota dengan panorama yang menakjubkan. Sekali lagi menakjubkan bagi mereka yang berpariwisata yang rumahnya aman dari bencana. Tapi entahlah, bagaimana dengan mereka yang rumah asalnya di porong kemudian hancur lebur dalam lumpur, sampai detik ini belum aku dengar orang porong yang rumahnya dikenai bencana lumpur itu mendadak menjadi orang kaya dari hasil penjualan limbah lumpur ke dasar laut. Akh, pasti sangat menyakitkan bukan.!
Mari kita telisik, bagaimana Pulau Sepanjang (1) dulunya merupakan penghasil dan penyuplai pisang terbanyak ke Pulau Dewata Bali sekarang justru berbalik 90o, Pulau Sepanjang menjadi salah satu Pulau yang justru mendapat suplai pisang dari berbagai daerah lain. Benarkah petani sepanjang sudah menjadi petani malas karena hasil pisang tidak mampu menghidupi keluarganya, tetapi bagaimana dengan daerah lain yang masih semangat bertani pisang, apakah mereka tidak punya keluarga?
“tahu apa kau soal ilmu geologi..?”
“yang aku tahu banyaknya realita, aku memutuskan untuk tidak tertarik belajar geologi, toh ahli geologi tidak ada yang bisa menjawab derita warga korban Lapindo kan.?”
“itu bencana alam, bisa saja besok atau sekarang pulaumu tenggelam!”
“kalau jawaban itu, aku tak perlu bertanya pada ahli geologi, adekku yang baru lulus SD juga bisa menjawab, tetapi adekku yang sudah SMP pasti mencari tahu jawabannya, karena teori IPA yang sedang ia pelajari menjelaskan Hukum alam merupakan hukum sebab akibat... kau pernah mendengar?”

Demikian, suatu ketika perbincanganku dengan orang ra’as yang katanya beliau seorang akademisi, birokrasi, muslim sejati yang tak pernah lepas dari peci, sorban bahkan beliau usai naik haji. Akh, kawanku.. apakah kau tahu kemudian bagaimana jawaban para buruh tani, buruh nelayan, petani dan nelayan, pedagang atau pengusaha kecil-kecilan seperti pengusaha warung kopi ataupun warung nasi. “sudahlah cong, itu mungkin sudah menjadi takdir kita”, jawabnya. Takdir ¿ hatiku terhenyak mengingat kalimat itu kawanku, ak tak percaya mereka punya alasan logis dengan jawaban itu, kecuali mereka sudah jenuh dengan para pelaku birokrasi yang kerap menipu mereka. Aku yakin mereka paham betul dengan ayat Al-Qur’an bahwa “..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka…”(2). Hemzz, ayolah kawanku kita berpikir realistis, takdir itu tujuan ibarat kita akan pergi ke pasar, kita punya pilihan apakah kita akan pergi dengan jalan kaki atau menggunakan kendaraan. Melalui jalan sempit atau jalan raya, hati-hati atau ceroboh. Itulah yang akan menentukan garis takdir kita. Bukankah begitu, kawanku?

Sepanjang malam itu, pikiran dan hatiku tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada satupun teori sosial yang mampu membuatku tersenyum, semua absurd. Seantero jagat raya terdengar sunyi, di bawah kolong-kolong langit hanya sesekali tampak cahaya merah pekat. Sementara sang cakrawala terlihat gelap, gelap sekali. Malam itu tak satupun bintang memancarkan cahayanya, dan sang raja malam lima belas tak berani tampak oleh karena tebalnya selimut awan hitam. Padahal aku sangat butuh pancaran sinarnya, ya setidaknya satu cahaya mampu membuat hatiku berpaling dari keyakinan lama bahwa sebuah kebajikan tak kan pernah bisa mengalahkan kejatan yang terorganisir. Akhhh..

Kawanku, aku memang tidak begitu paham apa dan bagaimana dampak negaif dari ekplorasi dan eksploitasi MIGAS, tetapi apakah hati kita sama sekali tak bergetar melihat relitas keadaan Pulau Sepanjang atau pulau tetangga sebelahnya yang sudah memlilih tenggelam bila air laut sedang pasang, sudah setinggi lutut manusia indonesia normal, kawanku!

“hemmz, ya sudahlah cong.. kalaupun tidak karena Ekplorasi dan Eksploitasi Migas, ra’as itu lambat laun ya sudah terkikis, bukankah batu-batu karang di ra’as memang dibiarkan digali, bom-bom ikan meledak dimana-mana.! Bukankah itu memang kemauan orang ra’as.?”
“Bom Ikan, iya.. tetapi bukan kemauan semua orang ra’as. Hanya kemauan segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari, yang barangkali mereka sendiri tidak paham dan tidak sadar akan dampaknya. Bukankah selama ini pemerintah terkesan cuek.? Coba, berapa kali pemerintah kita mengadakan sosialisasi kepada mereka terkait dengan dampak, larangan dan sanksinya.? Jika mereka harus berhenti dari pekerjaan ngebom, ia harus bekerja apa..? mereka sedang mencari solusi itu, mereka juga tidak mau sering berurusan dengan polisi tetapi mereka butuh makan..!”

Condition of perfect, is complete, kita tertindas oleh para preman-preman birokrasi, kita kecewa karena warga sendiri, kita hilang kepercayaan karena kelakuan-kelakuan bejat para penegak keadilan. Lalu kepada siapa kita bangun kepercayaan itu.? Ah kawanku, yuk kita tidur dulu nanti kalau kita terbangun, kita bangun kepercayaan itu.

* * *

Tujuh belas agustus tahun empat lima/ Itulah hari kemerdekaan kita/ Hari merdeka nusa dan bangsa/ Hari lahirnya bangsa Indonesia/ Merdeka/ Sekali merdeka tetap merdeka/ Selama hayat masih di kandung badan/ Kita tetap setia tetap setia/ Mempertahankan Indonesia/ Kita tetap setia tetap setia/ Membela negara kita (3).

Nyanyian itu serasa baru kemarin aku hafalkan, tetapi besok umur Indonesia sudah 67 tahun. Apakah perlu kulantunkan dengan merdu Lagu Indonesia Raya itu ? Sementara ratapan dan tangisan, kekecewaan dan ketidak adilan yang terjadi pada golongan strata sosial terendah masih terus berlangsung menulis cerita di bawah kolong-kolong jembatan, ataupun menjadi setumpuk tulisan koran bekas di dalam tong sampah ? Ataukah harus kubacakan kembali, dengan lantang menggantikan Sang Proklamator Almarhum Soekarno membacakan teks Proklamasi Indonesia? Lalu aku biarkan Sumpah Pemuda mengalir dalam darah, tetapi tidak biru apalagi merah, karena kuning menjadi isyarat lampu lalu lintas memberi perhatian “sebaiknya kecepatan dikurangi” hemz,, andai waktu itu Almarhum Soekarno mematuhi lampu kuning yang diberikan Belanda niscaya Indonesia tak kan menjadi sebuah negara, dan tidak akan ada cerita 17 Agustus Indonesia merdeka !

Malam setelah tanggal 17 agustus 2012 Masehi. atau lebih tepatnya setelah malam tanggal 15 bulan Ramadhan 1434 Hijriah. Tepat Jam 21.30 waktu indonesia ra’as. 8 orang sahabatku bertandang dan berkumpul di Rumah kecilku, seperti biasa kami menikmati join 1 muk kopi penuh canda dan tawa, tawa yang sangat khas dan tidak berubah segera meluap dari celah dagelan para mahasiswa yang tidak lulus-lulus, mahasiswa kadaluarsa, mahasiswa pembual dan pembolos, dan tidak tertinggal pula mahasiswa kolektor kampus; bayangkan dalam 2 tahun ia mampu menjadi mahasiswa di 3 kampus dan kota yang berbeda, hemz.. record hebat diantara sahabat dan orang-orang yang pernah kukenal.

Kian malam, perbincangan kami kian memanas. Ada pertanyaan yang mesti kami pecahkan bersama solusinya “se-abrek problema pulau kita, siapa yang pantas kita percaya.?” Dan kesimpulan sementara, jawabannya “belum ada, kita masih percaya pedagang kopi lebih memahami dan bersikap adil pada pelanggannya, mana yang suka pahit, suka manis, suka pahit manis. Dan iapun meraciknya dengan baik!” “hahaha”. Satu persatu mereka pamit pulang, dan tinggalla kami berlima; aku, Rusly, Khairul, Suryadi, dan Arief kembali membahas apa yang harus kita lakukan demi mewujudkan cita-cita ra’as yang adil, sejahtera dan maju. Rusly dan Khairul berbeda pandangan namun keduanya sama-sama terkesan pragmatis dan simpelistis “kalau sudah hukum di indonesia tak bisa ditegakkan, kita seret saja pemimpin-peminpin itu dan bunuh..!”. hemzz, Suryadi dan Arief yang sama-sama lahir dari tubuh organisasi pergerakan berpandangan lebih ekstrim namun tetap dalam semangat menegakkan demokrasi “demo,,, ya kita bombardir dengan demo para pemimpin-pemimpin kita yang tak becus itu”. Hemzz, semangat yang meluap-luap seperti yang kuharapkan, “semangat ini yang kubanggakan dari kalian, tetapi kalian harus tahu, sementara ini kalian (mahasiswa) tidak secuilpun mendapat tempat di hati masyarakat ra’as..! kalian tahu kenapa..? karena jatah Beras Miskin (RasKin) di kecamatan Ra’as dikurangi, dan itu sebagai efek dari demo yang pernah mahasiswa Ra’as lakukan di Sumenep” “what’s” mimik ekspresi wajah asin, kecewa dan entah marah karena bodohnya masyarakat ra’as yang kurang membaca, gaptek  dan hanya menonton film-film sinetron saja “iii-ni, ini pasti para pemimpin itu... memfitnah dan menyampaikan dikuranginya jatah raskin dikait-kaitkan dengan demo itu” gesture dan gestikulasi jari Rusly menuding-nuding suasana entah kepada siapa, warna wajahnya persis ketika kulihat sebuah drama teater Mahabarata dalam lakon Kartawirya Arjuna melawan Rahwana dalam kisah Uttarakanda atau  Kitab ketujuh dari seri Ramayana “apa manurut masyarakat mahasiswa ra’as di sumenep kala itu berteriak agar jatah di ra’as harus di kurangi..? apa mereka tidak tahu, kalau pengurangan jatah raskin itu berlaku di seluruh indonesia.?” Arief demonstran yang tumbuh dari kalangan pesantren kemudian keluar dan menjadi alumni yang bebas dari keterikatan peraturan pesantren. Sekedar Intermezo, ketika ia masih berstatus santri bila sedang ikut demo pasti ia menggunakan topeng wajah sebab ia tidak mau ambil resiko wajahnya masuk koran dan dipermasalahkan oleh keamanan pesantren lalu di usir “itu kan dulu” ungkapnya saat kuingatkan pada masa-masa lalu. :-) Tetapi malam ini, wajahnya kembali sayu seperti baru saja mendengar duka atau persis saat ia memendam rasa kecewa karena di tolak cinta “tentu, tidak semua masyarakat percaya begitu saja apa yang mereka dengar, ia pasti mencari informasi lain. Sudahlah tidak perlu melankolis begitu, toh apa yang telah kalian (mahasiswa) lakukan itu, aku yakin tidak ada yang keliru, karena hakekat perjuangan mahasiswa semata-mata hanya ingin menyelamatkan bangsa dan ingin memberi pemahaman soal kebenaran” tegasku.

“memang pada kenyataannya, banyak dari gerakan mahasiswa ditunggangi kepentingan-kepentingan tak bertanggung jawab dan hanya mementingkan keuntungan pribadi semata, kita tidak mau kejadian Kasus SISMIOP terulang kembali karena Oknum mahasiswa dan LSM yang hanya mementingkan perutnya sendiri, kita juga tidak mau ada pihak ke tiga yang justru mengambil keuntungan dari gerakan mahasiswa seperti kasus RasKin dengan berpura-pura menjadi wartawan dan setelah mengambil keuntungan iapun menghilang” Suryadi, setelah lama tenggelam dalam hipnotis kota yang molek dan erotis, semangat patriotis terhadap pulaunya kembali tumbuh dan manurutku ini wajib mendapat apresiasi tinggi.

* * *

Sudah terlalu lama suara Ra’as dibiarkan mengalun ke awang-awang, jeritan hati yang terluka hingga suara parau yang bergema tak mampu mengubah keadaan Pulau Ra’as yang tertinggal, “tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan brow!” betul sekali, tetapi apakah hanya  dengan diam dan berpendapat saja kita akan menunggu dan akan bilang “pada saatnya nanti Ra’as pasti maju dan tidak tertinggal lagi” sementara realita kita secara kolektif tidak pernah berbuat apapun untuk ra’as.! Aku mulai curiga jejaring sosial Facebook Group Suara Ra’as hanya menjadi hiasan perang Logika yang bertabur dalam maya namun tak mampu meruak di alam nyata, padahal anggotanya tidak hanya terdiri dari kalangan mahasiswa saja. Para Birokrasi, Akademisi, Kiai, hingga Mantri sudah sering berdiskusi tetapi sungguh aku seperti melihat genderang bertalu tak bertali tak punya gagang pegangan ataupun gedebug parang dalam perang melawan penjajah, kita ibarat teripang terapung, tidak berenang apalagi melayang, tidak kedasar tidak pula kepermukaan. Akhhh...

Memang siang itu di Mushalla Nurul Jannah Ketupat, 22 Agustus 2012 M atau 04 Syawal 1434 H, matahari kembali mentransformasikan energi putar semangat bagiku. Sekitar 50 Orang pemuda berstatus mahasiswa berkumpul dan berdiskusi ringan soal migas di ra’as. Mereka orang-orang hebat untuk ra’as yang pengetahuan dan kemampuannya tak perlu diragukan lagi. Mereka berasal dari anggota Malang Corruption Word (MCW), Ketua Umum Koordinator Komisariat HMI UIN Malang, Sekjend PMII Cab. Sumenep, Ketua Umum PMII Cabang Situbondo, Ketua BEM Fakultas Kesehatan Universitas Wiraraja Sumenep, Ketua Komisariat PMII Universitas Brawijaya Malang,  dan ketua GMNI Cabang Sumenep, dan 2 orang mantan mahasiswa aktifis senior dan isnpiratorku semasa di Sukorejo dan mahasiswa-mahasiswa yang aku sendiri tidak tahu alamat dan kedudukannya. “thank’s all, kalian telah mengobarkan kembali kepercayaanku bahwa Pejuang tak kan pernah mati” tetapi kutegaskan pada kalian, nasib Ra’as bergantung di pundak kalian bukan dipundakku, karena ra’as bukan milikku tetapi milik kita semua.

Bersambung............
Nantikan Episode selanjutnya “PASUKAN TERAKHIR DI NEGERI SIPUT”
Membakar cemburu di boemi adirasa-3 (habis)

...................................................................
1. Pulau Sepanjang Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep
2. QS : Ar-Ra’d ayat 11
3. Lagu Hari Merdeka (17 Agustus 1945) Cipt. H. Mutahar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar