Pernah kutelusuri jalan setapak menuju puncak, gemuruh gelombang yang kudengar waktu itu pertanda air laut mulai pasang, indah sekali kawan… hingga menjelang sore air laut kembali surut, menambah panorama pantai dengan sunset Ra’as yang dimiliki. Aku pernah meng-impikan suatu ketika puncak menjadi salah satu aset budaya Alam Ra’as. Tapi itu dulu kawan, tahun ‘99 saat kalian masih belum mengira saat ini akan menjadi tempat bercinta, ah cinta,,, ya cinta, aku juga punya cinta kawan!!
Baiklah kawan,,, kita tinggalkan sejenak persoalan tentang cinta dan kembali kuceritakan tentang Ra’as pada kalian. Jika kalian percaya, aku adalah orang yang pintar bercerita tentang cerita komedi negeri lelucon, lelucon yang mungkin kalian tak kan paham dimana kalian harus tertawa.
Pernah pula kuteriakkan suaraku di atas tebing 7 meter sebelah timur panyeppen, berteriak tentang malam, siang, bahkan perjalanan pendidikanku yang berliku, juga cintaku… ah cintaku, duh; kita tinggalkan lagi tentang cinta yaa…
Kulanjutkan ceritaku, bersama sahabatku dari negeri seberang yang pernah kuceritakan lewat tulisan puisi namun tak pernah dimuat dikoran, majalah, bahkan bulletin apapun, meski demikian kawan, kalian suatu ketika akan tahu siapa sahabatku itu,,, pasti!!
Di tebing itu, sengaja kuteriakkan semua keluhkesah hidup yang kurasakan, meski tak ada yang mendengar dan tak mungkin didengar oleh siapapun kecuali angin yang berlawanan arah yang bahkan aku sendiri tak paham arah mata angin hendak kemana. Akhirnya akupun bermaksud berputar arah meninggalkan semuanya, namun yang terjadi justru berbeda, aku merasa sangat berdaya dan hanya mampu duduk bersandar di tepian batu.
Seorang kakek dalam peng-lihatanku, tertatih menghampiriku seraya bertanya ;
“ada apa anakku, kenapa kau berteriak, apa kau tak tahu, aku bising mendengarnya”
“entahlah kek, aku hanya ingin menikmati malam tanpa gangguan siapapun dan melihat ra’as yang terang menderang”
“kau kan tinggal menyendiri, pakai lilin pasti menderang” jawab kakek seraya berkata kembali
“tapi, kau tak kan menemukan lilin-lilin itu di toko, sekarang yang boleh menjual hanya pemerintah,, kau beli saja di pak kades, pak camat, ya kalau tidak ada barangkali disimpan mantan pak kades”
“maksud kakek,,?”
”ah,, kamu itu bagaimana atau aku yang harus bagaimana”
sesaat kakek menghilang membuyarkan semua yang sedang ingin aku tanyakan.
Kini pandanganku melihat kearah timur yang sangat jauh, ada bentangan dermaga baru yang katanya akan beroperasi tahun 2010. Kawan, Bukannya Sekarang sudah tahun 2011,,, ah,, aku lupa, itu kan urusan pemerintah, bukan urusan kita !!! tapi kawan… taukah kau, kakek yang baru saja hadir dalam penglihatanku, sedang berada disana termanggut-manggut melihat orang-orang yang lalu lalang dari berbagai kota, bahkan manca negara atau orang-orang pelosok desa. Aku harus segera menghampirinya, paling tidak aku bisa berbalas budi karena tadi beliau telah menghampiriku. Belum sampai aku disana, kawan. Dia telah mengikutiku dari belakang, sedikit mengejutkan aku ;
“kamu mau kemana nak”
“aku mau menghampiri kakek”
“kau bisa apa, kau tak bisa apa, apalagi kau bukan siapa-siapa”
“tapi kek”
“sudahlah nak, ini sudah takdirku barangkali aku memang tak layak punya perahu”
“iya, tapi setidaknya kakek bisa bekerja disana, di kapal besar itu kek”
“aku tak punya ijazah nak” sesaat kakekpun kembali menghilang, aku dibuyarkan untuk yang kedua kalinya.
Sembari kulanjutkan perjalananku, disudut sekolah harapan masyarakat Ra’as, dengan jelas kulihat kakek jompo tadi terisak bersegukan. Saat kucoba mendekati, beliau berpaling dan marah padaku ;
“apa kau tak melihat, apa yang sedang mereka lakukan disini, di gedung ini, guru itu, bahkan orang-orang itu” kini kakek itu benar-benar menghilang, dan tak kan pernah kembali.
ah, kakek ma’afkan aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar