Rabu, 02 Maret 2011

Pulau Bidadari


Setidaknya dari perjalanan kemarin, aku bisa melihat dari dekat kerumunan orang-orang pesisir membias ombak sedang mencari Khidir yang menghilang ribuan tahun silam. Kulihat seorang perempuan setengah baya di tengah-tengah busa gelombang pasang sedang mengais kail ikan. Sementara anaknya duduk terpaku di tepi karang sesekali berteriak menyemangati bapaknya yang sedang menyelam. Perempuan-perempuan lain asyik berdansa di pinggir pantai, sambil menunggu sang pangeran kembali dari kelana menerjang maut di laut lepas.
Bila senjapun tiba, para perempuan itu berhenti berdansa. Mereka berpencar pulang ke rumah masing-masing, meratapi pajangan photo sang pangeran dengan air mata rindunya, pelukan hangatnya, belaian kasihnya hingga tak sadarkan diri tertidur pulas, sampai pagi hari menawarkan matahari terbit setinggi tombak yang ditancapkan di atas sebuah peradaban umat manusia seluruh jagat.

Tidak ada kabar duka pada hari itu, merekapun kembali berdansa melalui iringan musik gamelan digebuk seadanya, dibuat semerdu-merdunya. Kadang-kadang hilang ditelan gemerisik cemara kipas di sekelilingnya, kadang-kadang terlalu bising membuat air laut menyurut tak bernyali untuk pasang lebih tinggi. Kemudian perempuan-perempuan itu berlari-larian, berjingkrak-jingkrak membahagiakan diri. Mengejar air laut yang sudah surut cukup jauh lalu bersimpuh lesuh. Dengan wajah pucat pasi meninggalkan harapan pada karang-karang, mendongakkan kepalanya seakan menengadahkan petanya besar pada pikirannya yang menerawang “akankah sang paengeran telah berlabuh di pulau seberang, dan asyik bercengkrama dengan perempuan-perempuan di sana? Ataukah laut telah menenggelamkan perahunya dan ikan nun Nabi Yunus kenyang melahapnya?”

Semakin kelam perasaan kalut yang di derita mereka, menggebu pula rindu pada pangerannya, rindu yang sangat dalam mengalir deras dari ulu hati ke mata, tumpah ke permukaan sebuah mangkok separoh pecah oleh pikirannya sendiri.

Senjapun tiba, entah hari yang keberapa pada waktu itu. Sebuah kapal besar menepi ke pinggir pantai, turun seoranng awak menghampiri para perempuan-perempuan itu, ia sengaja membawa kabar untuk mereka. Kabar yang tak sempat kudengar karena keberadaanku jauh dari percakapan mereka. Kulihat sebagian dari mereka menangis bersedu-sedan, ada yang riang, ada yang merasa kecut seperti menahan perasaan dendam. Ada pula yang mungkin belum merasakan apa-apa mematung saja menunggu kabar giliran unntuknya. Begitupun dengan yang biasa-biasa saja, tak peduli kabar berita seakan terpesona kecakapan aura Jaka, begitu nama awak kapal besar pembawa berita itu.

Senja mulai petang, kabut hitam semakin tebal siang telah berganti malam. Satu persatu para perempuan itu menghilang dari pandangan entah ia pulang ke daratan atau berlabuh ke dalam kapal. Namun, kudengar jelas dari atas lambaian cemara kipas. Bisikan-bisikan menggoda, tawa-tawa kecil, bahkan rintihan asmara suara Jaka dan para pempuan-perempuan itu.

Dari arah yang berlawanan, jerit sang pangeran melawan ombak hanya terdengar sayup-sayup di dekap angin kencang dan terhalangi pulau di seberang itu. Oh… Sang Pangeran.


Pulau Bidadari terletak di Pulau Ra’as

Tidak ada komentar:

Posting Komentar