( 28.04.2011 )
Jam 15.15 wib waktu itu, laju kencang motor yang kukendarai bersama temanku dari sumenep sampai juga ditepi jembatan suramadu tepat jam 19.00 wib, sejenak kami berhenti menikmati pemandangan tiang yang menjulang tinggi nan indah disertai warna-warni lampu kota ditengah-tengah lautan antara surabaya dan madura yang kemudian disulap menjadi suramadu. Dahsyat, Seketika hatiku terasa ringan bila esok hari kudapatkan sesuatu yang berbeda. Berpengharapan menjadi awal tahun yang indah bagi lahirnya kelanjutan perjalanan teka-teki masa depan kehidupanku.
Belum puas aku berteriak tentang kegelisahan-kegelisahan yang menghinggap dihatiku, terpaksa harus rela kupendam dan berteriak dalam hati saja “nanti diperjalanan”, karena bila kami memaksa berlama-lama disana, sebuah mobil patroli suramadu yang sedari tadi mengintai keadaan jembatan suramadu tidak akan segan-segan menegur dan bahkan menilang motor kami. “ah pak polisi tak pengertian kau...”
Diperjalanan menuju terminal Bungorasi Surabaya, kami mampir disebuah warung pinggir jalan, entahlah disitu daerah apa namanya, temanku pu tak tahu. Sebenarnya maksud hati hanya sekedar untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong. Namun, keadaan memikat silau mata menjadi berbeta-betah memandang jeli perempuan jelita yang hampir sempurna, anggun nan sopan “ada yang bisa dibantu mas” “yoi yoi” ah, biasa temanku yang satu ini memang suka jail, nama panggilannya ayong padahal nama aslinya Moh. Jatim “biar keren kawan” begitu kilahnya. “mba’,,, kopi loro yo, siji kopi pahit siji kopi manis koyo mba’e,,, hehehe” gayanya yang suka berlebihan membuat aku tertawa terpingkal-pingkal, padahal lugat bahasa jawanya masih benar-benar kaku, norak, tapi kedengeran lucu, maklum baru tiga semester diMalang.
Aku yakin nanti pas menginjak semester lima ia takkan lagi belajar bahasa jawa, dan dipastikan kembali belajar menguasai bahasa madura “engki punten” seperti semasa aku mondok dulu, di kamarku E.5 aku berkumpul dengan teman-teman dari suku jawa, batak dan sasak. Bahasa suku sasak dan suku batak cukup tahu sajalah, aku lebih tertarik belajar bahasa jawa waktu itu hingga tiga semester aku sering berbicara menggunakan bahasa jawa, tapi karena keseringan diketawain teman sendiri akhirnya aku bosan “lugat kowe lucu fiend le’ ngomong jowo”. Lagipula, kemudian aku berpikir bahasa maduraku belum sempurna kenapa tidak aku belajar menguasai bahasa madura terutama “engki punten” dan bahasa nasional cukup bahasa indonesia saja atau bahasa internasional ya bahasa inggris atau bahasa arab bahasa persiapan akhirat. hehehe
Jam 20.35 wib, aku dan ayong harus berpisah di Bungorasi. Tujuanku ke sukorejo-situbondo sementara ayong besok pagi harus mengikuti mata kuliah di campusnya UM Malang. Ke sukorejo aku naik bis langsung probolinggo, “kacang...kacang...tahu..tahu..air..rokok mas” “ya makasih” “beli apa engga’” “engga’ mas, ada” “tak pukul kau tau rasa” nadanya begitu tinggi, sudah berwajah garang tingkahnyapun tak sopan, 90o berkarakter beda dengan perempuan penjaga warung dipinggir jalan yang kujumpai tadi, dalam hatiku mengumpat marah “busyet, sial banget orang ini, orang ga’ mo beli dipaksa mau beli” sebaiknya bila tak mau apa-apa dalam bis lebih baik diam saja, bolehlah sekali-kali belajar jadi orang bisu untuk beberapa jam saja. Hehehe
“Assalmualaikum wr wb. Selamat malam, bapak sopir, bapak kondektur, para penumpang bapak maupun ibu, remaja maupun adik, yang sedang dilanda cinta maupun yang sedang mencari cinta. Mohon ma’af kami sengaja disini untuk menghibur anda semua dengan satu lagu cinta dari jamrud berjudul terima kasih..selamat mendengarkan..” melalui jari jemari jelantik cukup piawai memainkan gitar akustik serta suara khas pengamen jalanan, tak merdu namun bila di resapi makna syair-syairnya pasti akan menyentuh hati bagi orang yang sedang dilanda cinta. “terimakasih, sampai disini semoga bapak ibu, dan para penumpang sekalian selamat sampai tujuan, semoga kita bisa berjumpa kembali diwaktu yang insyaAllah diridhai Allah, amin. Wassalamualaikum,wr.wb.” si pengamen itupun menjalankan misinya, menjalankan topi kosong yang dipakainya kepada semua para penumpang, kulihat ada yang merogoh goceh 500 rupiah, 1000 rupiah, atau sebatang rokok tapi tak jarang bermodal ma’af bahkan banyak pula yang berpura-pura tak acuh.
( 29.04.2011 )
Tepat jam 00.00 wib, bis yang kutumpangi sudah sampai diterminal probolinggo, akupun harus turun sebab bis yang kutumpangi bis jurusan jember. Akupun masuk ke dalam terminal dan menunggu bis jurusan situbondo datang. Sembari menunggu bis jurusan situbondo datang, aku duduk-duduk santai di kursi yang memang tersedia di terminal, kucoba buka facebook melalui hp nokia tipe jadul 3660 yang sebenarnya sudah tak layak hidup dijaman sekarang, tapi karena hp ini merupakan hp sejarah yang sudah pernah melalui fase-fase kehidupan yang terombang ambing bersamaku, selama 5 tahun “bayangkan”, kiranya tak berlebihan jika kukatakan “sumpah, meskipun kau coba tukar dengan blackberry, aku coba-coba pikir dech,,hehehe”. Saat kusulut rokok serta menghisapnya dalam-dalam, aku tersenyum kecil ketika melihat beranda profil facebookku banyak yang mengucapkan “happy brithday brow”, Hartono Azah, kemarin, hari-harinya sering dihabiskan dilapangan abu-abu Gelora Mandala, dikatakan abu-abu karena lapangan itu bukan dari rumput hijau melainkan rumput kering, dan bila dilihat dari jarak jauh taubahnya debu kayu bakar yang warnanya khas abu-abu. Meski ia tak sama dengan lekukan Lionel Messi penyerang atau gelandang serang dari kesebelasan Tim Tingo Argentina dan Los Azulgranas Barcelona FC, namun ia cukup memukau saat timnya Putra Mandala FC menang 1-0 melawan Akas FC dan menjadi juara Kades Cup VI Th. 2010.
“vend tolothomank” Mas Ipen, gitaris yang pernah dimiliki kota sumenep asal pasongsongan pada tahun 2000an harus gantung gitar karena korengan, ma’af maksudku karena tidak boleh oleh keluarganya, ia adalah temanku waktu KKN di Palasa Talango Sumenep Th. 2009 lalu.
“Ika dani” sang vocalis yang sempat kudengar suaranya mengalun di gedung Korpri Kota Sumenep, sungguh aku sering kangen suara merdunya, suatu saat aku pasti memintanya menyanyikan satu lagu untukku. Sampai jumpa nanti ya kawan!
“Abd Hamid Syah” wah, yang satu ini lain lagi,, manusia yang dilahirkan ditanah tandus ra’as akhir-akhir ini kudengar mengidap kelainan jiwa, yang ingin tau ceritanya silakan tanya aja di akun facebook “Chipullz Gerboger” atau “Encunx Esa” mereka teman-temannya yang akrab.
“Sehra Neó Zahro” entahlah nama aslinya siapa, punya anak berapa, suaminya siapa, yang kutahu katanya ia alumni pondokku juga, aku dan dia hanya akrab di facebook saja, tukar komen, saling sapa diobrolan hingga tanya-jawab persoalan kondisi pesantrenku sekarang. Sebenarnya tempo lalu waktu aku ke Jakarta hampir menemuinya, namun keburu balik ke madura, sebab terjadi perang periok disana, dan aku paling malas menontonnya. “Aku cinta damai brow” kutulis berkali-kali di beranda profil facebookku waktu itu, sama sekali tak ada komentar, barangkali indonesia memang suka berantem ya.. jika tidak percaya lihatlah kondisi PSSI sekarang, kondisi pedagang kaki lima yang sering diuber-uber aparat keparat. Dll brow...
Juga ade’-ade’ku berakun nama asli “Heni Megawati” “Saheba Tun Jamilah” ataupun yang aneh-aneh ada yang diberi nama “Vhiet Alextria” “smuasamasjah itumae” “Aqquchaiiank Qmuucllu” “LaraSanty Chacha-em Abiezz” duh dan semuanya dech...
Tapi tidak Abu Zairi yang tahun lalu juga mengucapkan selamat ultah untukku, seorang photografer jalanan indonesia asal ra’as bermukim di swedia, yang ketika aku masih kanak-kanak lebih senang memanggilnya Kak Roobinhod karena rawakan wajahnya yang lebat ditumbuhi rambut mirip sekali dengan tokoh utama film Hollywood berjudul Roobinhod.
Kuraih tasku dan segera bergegas masuk ke dalam bis jurusan situbondo, meski banyak ucapan di beranda profil facebookku, aku masih menunggu dari seseorang...
Kulirik jam tanganku, menunjukkan jam 01.30 wib tak terasa diterminal probolinggo hampir 2 jam menunggu bis yang sedang kutumpangi saat ini. “permisi mas” seorang cewek duduk disampingku, padahal masih banyak kursi yang kosong, untunglah wajahnya cantik, rambut pirang terurai panjang sampai punggung, hidung mancung bermata kehijau-hijauan bak keturunan eropa cukup membuat kekesalan hatiku mengubah haluan, karena jika tidak aku pasti memintanya agar ia duduk saja di kursi kosong lainnya, aku ingin menikmati tidur terlentang diatas kursi bis. Tapi desir darah yang dialirkan dari dalam dirinya telah memuncak mendegupkan detak jantung pria siapa saja yang didekatinya. Tak ayal akupun sok menjadi orang baik “dari pada tidak berbuat baik sama sekali, hehehe” “mba’ mau kemana” “mau ke paiton mas, masnya sendiri mau kemana” subhanallaah dia menanggapiku dengan nada yang sangat lembut, jika dibandingkan dengan perempuan penjaga warung yang sempat kujumpai tadi, sungguh 5% lebih sempurna darinya. “aku dari madura mo ke sukorejo mba’, mba’ asli orang paiton?” “ya, masnya dalam rangka apa ke sukorejo?” “biasa mba’ kangen suasana pesantren, maklum aku alumni pesantren mba’” “hehe, aku juga alumni pesantren koq mas” “heemmm” “heran ya mas, profesi yang membuat aku harus meninggalkan krudung mas” “ya ya, hakekat berkerudung kan dihatinya, bukan diatas kepalanya, lagi pula dijaman sekarang banyak kerudung hanya sebatas kedok penutup maksiat saja mba’, bukan begitu kan?” “ hehe,, ya bener mas,, aku kerja distatiun televisi swasta, ya mau tidak mau aku dituntut membuka kerudung, kalo masnya kerja dimana?” “hah kerja,, o,,o ya aku jadi pengacara” “pengacara, wah...hebat dong mas” “ya hebat,, pengangguran banyak acara..” hahahahaha. Kamipun berdua tertawa hingga tak sadar penumpang seisi bis terbelalak heran, ada apa gerangan! Belum tahu dia.. hehehe
“ada ada saja kau mas” “ya memang begitu adanya” “...yang paiton siap-siap” kondektur mengingatkan penumpang yang mau turun di paiton, “maaf mas, aku turun duluan ya” “ya hati-hati mba’” “ya makasih, masnya juga ya” “oke”. Eis, aku lupa tak tanya siapa namanya, nomor teleponnya berapa apalagi alamat lengkapnya dimana. “ah cuek saja, toh yang kutunggu bukan dia”.
Kubuka kembali beranda profil facebookku, sama seperti saat kubuka tadi masih tak ada yang baru. “Mungin nanti, biar kututup saja dulu” gumamku dalam hati, kemudian aku segera menikmati tidur terlentang di atas kursi bis.
Sekitar jam 04.00 wib, akhirnya kuinjakkan kakiku pada debu-debu yang sempat menempel disaku bajuku, sarung samarinda yang biasanya melilit dipinggang dan kopyah hitam amanah produk awing&son yang dulu tak pernah kumiringkan, serta terompa paccak yang siap terbirit-birit saat dikejar keamanan pesantren karena keluar komplek tanpa ijin. “hemm..” perasaan itu membuatku segera meluncur bersama abang becak menuju Asta Kiai As’ad, sebelum adzan subuh tiba aku harus sudah selesai berziarah ke makam beliau, tidak untuk berdo’a pada sebuah makam tapi tawasshul hukumnya sangat dianjurkan dalam islam. “ya Allah, saat ini hamba berada dilingkungan orang-orang suci, dilingkungan orang-orang yang engkau kasihi, hamba berlumuran dosa dan mungkin hamba tanpa malu kembali ingin berkumpul dengan mereka, sebabnya ya Allah hamba mohon kepada-Mu teteskan pula pada hamba cinta kasih-Mu agar hamba selalu dalam ridha-Mu seperti telah engkau teteskan rahmat dan kasih-Mu pada Kiai As’ad, amin”.
“Allahu akbar Allahu akbar” suara adzan subuhpun tiba, empat kali takbir adzan khas Mushallah Ibrahimy Sukorejo masih tak berubah, konon adzan dua kali itu oleh Kiai As’ad dimaksudkan mengusir roh-roh halus pada adzan yang pertama dan adzan yang kedua untuk segera menunaikan ibadah sholat. Namun di Masjid Ibrahimy sudah tak kudengar suara adzan temanku, kudengar beberapa bulan yang lalu ia harus rela angkat koper karena melanggar berat aturan pesantren ditambah aturan plus-plus minus fitnah, atau berita yang dibuat-buat berlebihan oleh pengurus pesantren yang tak bertanggung jawab.
Subuh sudah berlalu, matahari mulai menyingsingkan sinarnya dari ufuk timur, sebenarnya aku berkeinginan silaturrahmi ke kamarku kemudian soan ke pengasuh pesantren. Tapi katanya kamarku sudah tidak ada, sudah di jadikan kamar para ketua kamar sementara Kiai Fawaid memimpin rapat laporan mingguan ketua kamar di auditorium putra.
Akupun menuju pemandian, Ke Saleh “Gubuk Cinta” atau gubuk yang enam tahun silam oleh kalangan sahabat santri ra’as lebih dikenal “Gubuk MA.03” sebab pemandian itu tepat dibelakang Madrasah Putri Ma’had Aly, banyak kenangan yang tak bisa dilupakan digubuk itu. Tunggu saja diwaktu dan tulisan cerita yang berbeda kan kuurai kembali dengan judul “Gubuk Cinta” tentu saja akan kuusahakan menggunakan kosakata dengan konotasi-konotasi yang indah yang takkan mengecewakan siapapun yang membacanya. hehehe
Jam 12.00 wib, seharusnya ada sesuatu yang manis yang kudapatkan darinya, setidaknya ringtone tut-ti-tut hape tiga enam enam puluhku berdendang ditelingaku, bernada syahdu mengalunkan kalimat “happy brithday my love”, “Jika memang sibuk di tugas KKN dan tak bisa kujumpai kau disana, tolong kabari aku sayang, atau barangkali aku harus menunggumu di sukorejo, biar nanti kita ketemuan saja di ruang tikanan, toh petugas ruang tikanan semua temenku koq, pasti lebih gampang sayang, indonesia kan begitu siapa kenal dia dapat, sukorejo juga indonesia kan sayang, plis dech”.
Jam 22.00 wib, Setelah kusimpan hapeku di saku celana panjangku. Kubaringkan tubuhku tanpa bantal dan terlelap penuh kasmaran. Tersibak dalam mimpiku kau hadir didepanku bersama pria yang sama sekali tak kukenal, wajahnya ganteng, tegap semampai bak Adirai binaragawan asal Bali itu. “happy brithday wa’ek” “what?” asin rasanya tak tertahankan memual dari perut ketika mendengar ucapan seorang kekasih yang sangat kuharapkan justru menendang otak kananku. Meski akhirnya kutahu itu terjadi dalam mimpi. Namun sampai saat aku terbangun dan melihat kembali beranda profil facebookku hasilnya tetap tak ada kabar baru. Kini dua puluh sembilan april dua ribu sebelas telah terlewati.
( Sumenep : 05.06.2011 : 09.59PM : aku masih merindukannya )
sip dech,,, bagus banget ca'... up loud yang baru2 dunk,,, he3x
BalasHapus