Kamis, 08 Desember 2011

Sajakku Untuk Ra'as

“Aku Ini Siapa”
Padahal, bila aku sedang di luar pulau, aku selalu merindukan senja dari bilik bambu dapur yang berlubang di belakang rumah. Tarian ranting-ranting pohon kapu atau sebatang pelepah daun pisang yang melambai-lambai seakan memanggil mega di ufuk barat. Disusul suara muadzin yang tak asing lagi ke khasannya “Ki Dedeng” memanggi-manggil nama-Nya dan mengingatkan manusia-manusia yang terketuk hatinya. Allahu Akbar, mengetuk hati setiap insan yang mendengarnya.

Sementara hari ini, aku tak lagi berjalan berlarian di pagi hari, cerita kicau burung kepodang satu-persatu tak lagi kutemukan. Duduk di pinggir pantai sudah sangat membosankan, bayangkan suguhan ombaknya bukan lagi gelombang pasang yang indah dipandang namun arwah mayat-mayat berserakan. Kenapa kita tak pernah bertanya, ada apa gerangan “bukankah bila satu semut saja menggigit pergelangan manusia, maka manusia segera membakar dan membasmi sarangnya” barangkali perlakuan Tuhan seperti itu ya !
Gebuk beduk Ki Dedeng 200 langkah dari rumahku sudah tak pernah kudengar lagi, namun jerit pilu dari pulau bagian seberang semakin jelas menggetarkan bumi tanah kelahiranku. Cerita ayam dimakan musang, musang dimakan babi hutan, babi hutan terjerat perangkap hutan belantara yang dibuatnya sendiri, seperti pantun jenaka yang dibacakan anak-anak gelandangan di pinggiran trotoar kota metropolitan. Ah, sama sekali tak membuatku tertarik mengucapkan duka cita.
“Pragmatis sekali jawabanmu bung, lucu” begitu salah satu komentar orang ra’as yang mengaku seorang ahli filsafat di facebook beranda Suara Ra’as suatu ketika. Benar sekali ! tapi lebih tepatnya aku tak memahami arti pragmatis itu sendiri, hingga jawaban yang sebenarnya kubangun, pragmatis bukanlah sebuah ideologiku, namun karakter yang dibangun oleh keadaan. Sementara aku masih terpaku idealisme sosialis yang telah dihancurkan kapiltalisme. Entahlah, yang demikian itu bagaimana ia menanggapinya.
Gagang daun jagung mulai membesar dan kuat, namun seperti biasa hujan mengguyur sekali saja dan hanya mensejahterakan kembali rumput-rumput liar yang mendenguskan buruh tani di atas kemalangannya. Apa bedanya rumput liar dan tikus-tikus piaraan pengadilan itu ?
Ah,,, memang ku akui aku tak pernah membantu rakyat kecil, tetapi seingatku aku tak pernah menyusahkan mereka. Aku bahkan tak pernah memberi tetapi aku tak pernah korupsi. Aku memang banyak hutang tetapi aku tak pernah mencuri milik orang lain. Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka, tak penting di matamu “aku ini siapa ?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar