Apakah yang masih sempat kudengarkan tentang Adirasa? jejaknya meninggalkan banyak tanya! Tak perlu kiranya saya persoalkan, semua tahu astanya hanya sebongkah batu nisan yang tak tertuliskan dalam sejarah. Sejarah indonesia mana yang patut kita pikirkan? setiap pergantian kepemimpinan sudah digelapkan! Babad Sumenep, Sejarah Sumenep semakin tahun semakin meragukan, tak ada ceritamu yang membenarkan!. Apakah kau yang berjuluk Raden Wirabrata? ataukah kau Raden Wirakrama yang sebenarnya keturunan Agung Penembahan Blingi bergelar Aria Pulangjiwa? Pentingkah saya bercerita kembali soal Adirasa, tetapi boemi adirasa tempat kisah semua lara suka dan duka. Sepetak tanah yang mengambang di atas laut bumi yang menurut akal manusia sangat rentan dengan bencana, bayangkan keberadaannya dikelilingi lautan dan selat sepudi yang terbilang salah satu selat cukup ngeri ombaknya di wilayah Indonesia .
Penting apakah saya ceritakan soal boemi adirasa? Adakah di tempat itu pernah terjadi sesuatu yang istimewa seperti pertempuran sengit indonesia melawan penjajah? Atau ada pohon hantu seperti pohon asam tua dan meninggalkan kematian dari zaman ke zaman seperti kelaparan dan pembantaian yang mengerikan? Atau ada hal-hal lainnya yang mengandung kisah seperti perselingkuhan dan bencana?
Kukatakan pada kalian, ini adalah kisah sebuah marabencana! bila kalian masih bertanya, bukankah setiap marabencana memang selalu ada di setiap waktu di setiap daerah? Tetapi apakah kalian tahu, bahwa kisah marabencana itu dimulai dari rasa suka yang berlebihan! Seperti dalam Cerita Tutur Tinular, Jayakatwang yang berpesta pora setelah mengalahkan Kertanegara, lalu tumpas karena diserang tentara Tartar yang diarahkan oleh Raden Wijaya? Ma’af, sejarah yang terjadi katanya “sebenarnya” tidak ada pendekar Arya Kamandano apalagi cerita adanya Bajang disitu.. he_he
Konon, ketupat dulunya merupakan pulau terpisah dari pulau ra’as. Suatu ketika Putera Batur dan Puteri Comara datang menghadap sang Baginda Raja Kalabhengan di Kerajaan Ghempang, sebagai utusan warga Kampung Banlidur dan Warga Kampung Karanji. Sembari menghaturkan sembah kepada Sang Baginda Raja Kalabhengan, Putera Batur menyampaikan maksud kedatangannya “Bagida Paduka Raja, hamba berdua dengan Puteri Comara menghadap kepada sang baginda sebagai utusan warga Kampung Banlidur dan Warga Kampung Karanji guna menyampaikan beberapa ide” “katakan” jawab sang Baginda Raja “guna melebarkan sayap-sayap kerajaan ghempang, dan melancarkan arus perekonomian warga, maka dibutuhkan jembatan yang menghubungkan pualu ini dengan pulau timur seberang” “ya, saya sudah lama memikirkan itu, bagaimana menurut Patih Noko dan Patih Naka?” “hamba menghatur titah paduka, tetapi hamba kira ada beberapa syarat yang harus diajukan kepada warga, pertama selamanya disini harus tetap menjadi pusat Kerajaan, Kedua bila ternyata Kerajaan Ghempang harus terpecah belah pemimpin-pemimpinya harus tetap jujur, adil dan amanah” Kata Sang Patih Noko mengajukan syarat kemudian disambut oleh Patih Naka “benar apa kata Patih Noko, dan guna memudahkan warga membangun jembatan itu maka dari hamba mengusulkan, bagaimana kalau batu-batu dan pasir yang dibutuhkan untuk membangun jembatan itu mengangkut dari pekarangan sekitar rumah Putera Batur dan Puteri Comara, Putera Batur memiliki batu yang banyak dan Puteri Comara memiliki pasir yang bagus dan melmpah”. Ah dasar Patih Naka cerdas tak bertabiat, dirinya mengikis hak rakyat padahal jika mau berpikir kenapa tak mendatangkan dari planet saja atau mendatangkan dari batu-batu gunung tanah pulau jawa. Putera Batur dan Puteri Comara cengar-cengir dan mengangguk saja, karena bodoh iapun lupa kelak anak cucunya bagaimana. Maka terkikislah batu-batu dipinggiran sepanjang pantai batur oleh air dan tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab, comara tinggallah kisah dari pasir putih yang merona, semakin tahun semakin terkikis dan habis. Noko Naka menjadi legenda sikap kejujuran dan kelicikan seorang patih kerajaan.
Tapi ini bukan kisah tentang Adirasa, peperangan ataupun burung hantu, apalagi cerita Raja Kalabhengan yang kuada-adakan itu, he_he. Tetapi ini sebuah kisah cinta remaja yang kembali besemi disaat bulan sedang mati.!
Siang itu, Dimas dan Dian hendak berlibur ke Pantai Batur. Iapun melaju dengan motor barunya. Malang sungguh malang , motornya tergelincir kerikil ditengah jalan dan menabrak trotoar jalan yang akhirnya membawa nyawa Dian melayang. Dimas pingsan hingga sekarang linglung sudah tak ingat keadaan. Menurut kabar yang kuterima tempat Dimas jatuh tepat di tempat Pak Juda menabrak tiang telkom yang remuk akibat dimakan usia, padahal tiang usia telkom masih sangat belia namun karena kwalitas besinya barangkali yang rentah hingga mengakibatkan Pak Juda tertabrak dan meninggalkan perempuan setengah baya tercintanya untuk selamanya, Bu Marfu’ah namanya.
Sejak kejadian itu, masyarakat setempat semakin percaya kalau tempat itu merupakan salah satu kawasan angker di boemi adirasa. Belum lagi cerita soal Ko’koko’ Bhato yang keadaannya mistik dan tak ada yang berani memastikan dimana tempat persembunyiannya. Banyak pula yang mengisahkan adanya Jaran Buttong berkepala manusia yang sering berkeliaran diwaktu tengah malam. Entahlah, cerita itu benar adanya atau hanya sekedar mengada-ngada yang dibuat seakan-akan mereka sendiri pernah mengalaminya.
Lalu tentang Dimas dan Dian, remaja yang sedang kembali jatuh cinta itu? Kisahnya sederhana, Dimas dan Dian sepasang sejoli sejak lulusan SMP. Keduanya sempat berpisah, Dian lanjut hingga Kuliah di sebuah pesantren sedang Dimas menjadi Kuli di sebuah pulau seberang. Dimas sebenarnya lahir dari kalangan orang yang mampu, namun akhirnya ia kecewa dan memutuskan berhenti sekolah karena melihat kenyataan gurunya tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Yang paling menggelikan ia melihat para lulusan sarjana dan sarjana tanpa lulusan hanya manggut-manggut melihat proyek dermaga atau aspal jalan raya yang hanya berumur sementara agar menjadi proyek tahunan. Apalagi didukung wacana Bapaknya yang buissnesman sukses itu bahwa uang adalah segalanya. Maka iapun segera membangun semangat etos kerja, kerja-uang-kerja-uang! “Yang penting aku bukanlah pencuri telur ayam yang lebih terhormat dari pada koruptor berdasi berkedok sarjanawan!”
Singkat cerita, Dimas menjadi kuli yang cukup sukses. Ia telah mampu membangun sebuah rumah, membeli motor dari uang hasil jeri payahnya sendiri. Dianpun sudah menjadi sarjanawati yang cantik, molek dan aduhai tegap semampai. Seperti cerita biasa pada kebanyakan remaja, Dimas dan Dian kembali memadu kasih berkat pertemuannya disebuah dermaga, waktu itu Dian yang baru saja menggunakan jasa angkutan Kapal Fery bersama keluarganya pulang dari pesantren, ia sedikit berjingkrak melihat pemandangan Dermaga Daengkusuma yang indah itu, bibirnya sedikit tersenyum saat ingat ijazah kuliahnya ditasnya “aku akan melamar pekerjaan disini” gumamnya dalam hati, tapi melamar sebagai apa? bahkan penjaga loketpun sudah penuh “ayah, yang jaga loket itu siapa?, aku baru melihat, sepertinya bukan orang ra’as” “memang bukan, kebanyakan yang kerja disini orang-orang sumenep, surabaya , kediri , solo. Tidak ada orang ra’as” “lho, tidak bisa dibiarkan.. ini penjajahan namanya!” “jangan keras-keras nak,” dengan perasaan kecewa Dian berjalan mematok-matokkan kakinya dipinggiran dermaga, tak sadar kakinya tersangkut lubang aspal karena dikenai hujan, akibatnya badan terpental terhuyung-huyung hampir terjatuh ke laut dasar. Beruntunglah, Dimas yang kebetulan berada di tempat itu dengan sigap memegang tangannya. “Dimas!” “Dian!” berpandangan melepas rindu setelah beberapa tahun tak pernah ketemu. Darah cinta yang sempat terhenti kini kembali mengalir dari kaki sepasang sejoli.
Cerita na’as Dimas dan Dian diawali ketika mereka baru saja selesai ikut demonstrasi mahasiswa “mempertanyakan kembali kompensasi Migas terhadap ra’as”, hari itu keduanya sempat terlibat bentrok dengan Aparat Kepolisian dan Aparat Desa Sekecamatan. LSM, Tokoh Masyarakat dan Pemuda Tetap Ra’as saat itu hanya menonton saja karena sudah pernah mengenyam manis uang sebesar Rp. 100.000,- dari sosialisasi Kapal Fasilitas Produksi Terapung Migas pada tahun 2012 dulu. Dan Tokoh Agama memanjat do’a semoga ra’as tetap aman, tentram sejahtera!.
Selesai demonstrasi itu, rencananya Dimas dan Dian pergi jalan-jalan ke Dermaga Daengkusuma, tapi karena hari itu Dermaga Daengkusuma tidak buka, karena Dermaga Daengkusuma hanya buka di hari Sabtu dan Rabu saja saat Kapal Fery berangkat dan berlabuh kembali. Maklum, barangkali aspalnya khawatir cepat rusak karena kaki-kaki orang ra’as yang kasar oleh karena terbiasa dengan pekerjaan kuli bangunan, atau membajak sawah dari pekarangan yang gersang. Ah, masa sih Dana Anggaran sebesar Rp. 76 Miliar ! kokohnya dapat dikalahkan teras rumah seorang kuli bangunan yang mampu bertahan hingga 2-6 tahun, sama tak beratap dan tak tertutup dan hanya menghabiskan biaya sebesar Rp. 2 Juta, tentu saja untuk ukuran 2 x 4 meter, kalau dermaga itu kira-kira ukuran berapa kali berapa ya? masyarakat tak kan ada yang tahu !
Tragedi tergelincirnya motor Dimas dan tertabraknya Pak Juda, sebenarnya terjadi karena kecerobohan manusia-manusia proyek, andai aspal sedikit dipoles lebih bagus dan tiang telkom yang sudah tidak ada itu lebih berkwalitas, niscaya ceritanya berbeda.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar