Untuk menikmati siluit senja, secangkir kopi plus tiga batang rokok sudah cukup menemaniku di teras rumah hingga petang tiba. Seperti biasa, menikmati dan memandangi siluit senja apa adanya tak ada penekanan berimajinasi kemudian merangkai puisi-puisi atau melarutkan diri dalam mimpi-mimpi tingkat tinggi. Hanya saja, memang tak dapat kupungkiri kadang-kadang keindahannya membawa nuansa romantisme masa lalu, meski tak jarang kutepis dan mengalihkannya pada suasana romantisme masa depan. Siluit senja tetap tak bisa kuhindari, sebentar menciptakan keindahan di titik barat, berubah menjadi mega merah kemudian padam oleh malam yang kelam.
Bila demikian kelam dan tak dapat kulihat masa depanku. Pastilah aku selalu rindu sosok itu, sosok jelita yang pernah mengisi hati dan menjadi spirit dalam setiap pergerakanku, menjadikanku seorang organisatoris, hingga pemuja love story’s di masa itu. Sungguh, tiap kali aku melewati rumah itu, bayangan masa lalu, tentang nuzulul qur’an di bulan ramadlan, tentang pembelajaran menjadi orang dewasa hingga mengenal dan bertanya tentang kebenaran adanya cinta, sosok perempuan itu adalah jawabannya.
Entahlah, sampai detik ini aku belum mengerti sejatinya cinta; ada yang datang padaku dan mengatakan cinta itu anugerah, tapi aku sadari Dhea tidak tercipta untukku. Ada pula yang mengatakan cinta itu buta, tapi aku bisa melihat, aku siap dan menerima keputusannya. Cinta itu Suci, tak bisa kubohongi perih rasanya bila ditolak dan diputus cinta. Namun yang kutahu, detak jantungku berdebar-debar ketika memboncengnya di atas sepeda motor miliknya. Menikmati jalan gunungan yang indah, cicit cericit burung-burung kecil, kupu-kupu yang berkejaran menambah romansa siang itu. Rasanya terik matahari seperti fajar di pagi hari dan silau keadaan gersang tanah di sekitar seperti siluit senja di sore hari.
Ah, Cinta bagiku adalah matahari; bila sedang menyingsingkan sinarnya di pagi hari, segar rasanya mendapat cipratannya. Bila siang, terik dan panas serta racun UVnya membuat setiap orang harus berhati-hati. Dan bila sudah terbenam tinggallah cerita tentang siluit senja yang sebentar itu.
Bagaimana aku bisa melupakannya. Hampir tiap ramadlan tiba, ada saja teman-teman yang mengingatkanku pada kejadian ramadlan masa itu. Belum lagi keponakanku tersayang yang cerewet, ia tak bosan-bosannya memberikan kabar tentang keadaan Dhea, dari kabar yang paling aku benci sampai kabar yang paling aku suka. Like this “om, Mba’ Dhea tambah cantik, buanget…uhhh” oh No “tapi udahlah om, jangan banyak berharap, om ga’ level dengannya, cari yang lain aja ya om” he_he, bagaimana keponakanku bisa tahu kalau aku masih berharap segumpal cinta darinya. Padahal hanya setahun sekali ia dan aku dapat berkumpul dalam satu keluarga.
Tapi setidaknya, bisik dalam batinku benar; bila seseorang sedang memikirkan orang lain pastilah orang lain itu sedang memikirkan seseorang itu. Karena antara keduanya ada ikatan batin yang tak dapat diketahui orang lain. Percayalah Tuhan mencipatakan sesuatu selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Bila tidak, mengapakah Dhea masih sempat bertanya pada keponakanku itu berapa nomer hapeku ! pada suatu ketika, pada ponakanku ia juga bercerita sempat berjumpa denganku di sebuah seminar, sementara Dhea katanya cuek saja dan pura-pura tidak melihatku ketika aku melihatnya. Padahal aku tidak melihat kehadirannya. Jangankan melihat, berpikir Dhea akan hadir dalam seminar itu sama sekali tak terlintas dalam otakku. Waktu itu aku merasa hanya rindu saja.
Aku percaya apa kata Khalil Gibran, kadangkala orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari. Untuk Dhea, bila cinta memang tak harus memiliki, aku harap Dhea bukanlah siluit senja yang menyisakan cerita disore hari, namun purnama yang menyisakan kesyahduan dimalam hari. Berbaik-baiklah kau disana Dhea.

heeemmm,,, sera genekoo...
BalasHapus